Jelang Usia 500 Tahun, Jakarta Butuh Paradigma Baru Pengelolaan Sampah

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
ARTICLE AD BOX

, Jakarta Dua tahun lagi, Jakarta genap berumur 500 tahun. Menuju hari krusial itu, Jakarta berkeinginan menjadi kota dunia dan berbudaya. Salah satu tantangan mewujudkan mimpi itu adalah pengelolaan sampah.

Merespon tantangan itu, Koalisi Warga untuk Jakarta Bersih dan Berbudaya menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Mengubah Paradigma Pengelolaan Sampah Menuju Jakarta Global dan Berbudaya” di instansi Agenda 45, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (12/8/2015).

Acara ini dihadiri langsung oleh Tenaga Ahli Gubernur DKI Jakarta Hendra Kusumah, Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Monang, dan perwakilan aktivis Bank Sampah, TPS3R, dan aktivis lingkungan.

Hendra Kusumah, nan mewakili Staf Khusus Gubernur DKI Yustinus Prastowo, menyampaikan bahwa persoalan sampah bukan hanya masalah teknis, tetapi juga gambaran budaya, kesadaran, dan perilaku masyarakat.

“FGD ini menjadi ruang krusial untuk merumuskan rekomendasi nan realistis, aplikatif, dan berorientasi pada perubahan budaya pengelolaan sampah,” tuturnya.

Pada kesempatan nan sama, Kelik Ismunanto, selaku penyelenggara sekaligus Koordinator Koalisi Warga untuk Jakarta Bersih dan Berbudaya, menyampaikan urgensi untuk mengubah paradigma pengelolaan sampah di Jakarta nan selama ini terlalu konsentrasi ke hilir agar digeser ke hulu.

“Cara pandang kita soal sampah ini nan perlu diubah, bahwa sampah ini sesuatu nan kudu diubah, tetapi bisa dipilih dan diolah sehingga bisa bermanfaat,” jelasnya.

Persoalan Sampah di Jakarta

Monang, perwakilan DLH DKI Jakarta, memaparkan persoalan pengelolaan sampah di Jakarta. 

“Dengan jumlah masyarakat lebih dari 11 juta jiwa, ada 3,6 juta kepala keluarga, 2.741 RW, dan 30.894 RW, menghasilkan 8600 ton sampah per hari. Dengan menangani itu, kami hanya punya 1000-an pendamping,” jelas Monang.

Menurutnya, meskipun pengelolaan sampah Jakarta sudah menekankan pemilahan sampah di rumah tangga, tetapi partisipasi penduduk tetap kurang. Di Jakarta, ada 3356 unit bank sampah  nan terdaftar dengan 140 nasabah. 

Sementara itu, Direktur Utama Perusda Pasar Jaya Agus Himawan menyampaikan soal penanganan sampah di pasar-pasar nan di bawah naungan Perumda.

“Kita menaungi 150 pasar dengan produksi sampah 500 ton per hari. Dalam hitungan produksi sampah pasar itu, ada juga sampah dari penduduk sekitar,” katanya.

Menurutnya, Perumda Pasar Jaya sedang memulai kebijakan baru pengelolaan sampah, ialah mendirikan pusat pengelolaan sampah mandiri. Dengan konsep baru ini, masalah sampah di pasar bakal diselesaikan di tempat.

“Kita sudah menyelesaikan pusat pengelolaan sampah berdikari di Pasar Induk Kramat Jati, nan memproduksi 200 ton sampah per hari alias nyaris 50 persen sampah pasar di Jakarta,” jelasnya.

Dalam obrolan itu, Ketua KSM Sahabat Lingkungan, Hendro Wibowo, juga beragam pengalaman soal pengelolaan sampah berbasis penduduk alias komunitas. 

Menurut Hendro, pihaknya menyampaikan empat paradigma pengelolaan sampah, ialah ekologi, ekonomi kreatif, edukasi, dan punishment and reward. Kata dia, mengedukasi penduduk agar punya kesadaran memilah dan mengolah sampah memang butuh waktu lama. 

“Fukuoka di Jepang itu butuh 90 tahun. Makanya, edukasi sampah itu kudu disertai support pemerintah dalam corak politik kebijakan dan anggaran,” jelasnya.

FGD ini menghasilkan sejumlah konklusi dan rekomendasi nan nantinya bakal digodok agar menjadi roadmap pengelolaan sampah di Jakarta.

Selengkapnya